Semakin jauh jarak antara penyampaian rasa. Tak mungkin akan bisa tercapai dan terwujud. Takdir berkata lebih bijak dari apa yang kita harapkan. Engkau telah menjadi bintang yang bersinar di dekapan hangat terik bulan. Saatnya serpihan ini terhembus angin menerpa deburan debu yang lain
Kau
Kau angkat diri ini, kau lambungkan setinggi asa. Hingga tak terjamah mata memandang. Kau gantungkan, kau harapkan dan membuat perasaan terbang tak terkendali..
Dan sekarang kau jatuhkan , kau tancapkan pedang berduri , kau koyak perasaan ini , kau robek dan kau hancurkan membuat asa ini hancur berkeping-keping tak kembali.
Bertepuk Sebelah Lautan
Bertepuk sebelah lautan
Merindukanmu, Mendoakan mu dalam setiap akhir Sholatku, menjadi rutinitas pengharapan yang ku gantungkan kepada Allah SWT, berharap engkau adalah bidadari yang diciptakan Nya untuk menemaniku dalam mengarungi keruhnya kehidupan. Aku manusia yang terlalu bodoh, yang mengharap lebih kepada manusia. Aku hanya berdoa dan terus berdoa dan tak tau harus berusaha seperti apa. Yang kuharapkan semuanya pupus menghunus jantung ketika ku berusaha untuk bertemu denganmu. Sudah ku mimpi-mimpikan indahnya pertemuan kita. Ternyata tidak terjadi dan bodoh nya lagi ku mengharapkan itu mimpi. Setelah ku arungi pulau pengharapan yang begitu jauh nya ternyata itulah kenyataan yang aku hadapi. Aku lemas bagaikan tak bertulang duduk bersimpuh menahan beratnya pengharapan yang tak tersampaikan. Penderitaan perasaanku tak Ter elakan setelah ku tahu orang yang ku selipkan namanya saat aku berdoa telah menyelipkan nama orang lain di dalan doanya. Aku jatuh tersungkur mendengar semuanya itu. Aku yakin Tuhan kita sama hanya cara kita berdoa yang berbeda. Aku yakin Tuhan mendengarkan doa ku. Tapi mungkin kita memang tak bisa bersatu sekeras apapun aku berdoa dan berusaha kita tetap tak berjodoh, semoga kau bahagia hey hal indah dalam hidupku
Jurang
Menganggapmu bahwa, engkau yang selalu meneduhkan perasaanku di setiap panas amarah yang akan keluar secara menggebu-gebu adalah hal yang menyakitkan setelah nyatanya kau hanya sebagai bunga yang gugur dan terbang jauh pergi di terpa angin pengharapan meninggalkan goresan luka yang sangat terasa perihnya.
Embunku
Tetesan embunku apakah sama dengan mu disana ?
Ketika mendengar dan melihat senyumanmu dari bingkai virtual
Memaksaku untuk ber imaginatif lebih
Mendeskripsikan setiap lekuk bibir mu yang sedikit memerah
Menelaah setiap guratan kelopak mata yang semakin jelas
Mencoba menggabungkan semuanya untuk mengobati rasa kangen sedikit demi sedikit
Walaupun tak cukup asa untuk mewujudkan nya
Tetap berusaha keras menggapainya
Harapan
Menganggapmu sebagai tetesan embun pagi hari
Yang selalu bertabrakan dengan matahari yang terbit dari timur
Mengharapkan, engkau seseorang yang selalu aku lihat dalam setiap terbangun
Raih
Langit sudah terlanjur memerah menampakkan rindunya
Tak tertahan karena badai nya semakin deras berkata
Rasa yang ingin terucap terus tertahan
Tak dapat lagi tersampaikan dengan lugas dan berperasaan
Angin berhembus mengoyak menembus
Berharap agar tetap terhubung
Dengan raga yang tetap bernyawa
Menyimpan asa yang tiada Tara sampai mewujudkan nya
Hai….
Hai kamu yang sedang melamun sendiri, memikirkan sesuatu yang selalu terngiang dan tak pernah ketemu. Mungkin yang kamu pikirkan sedang sibuk mikirin orang lain. Sabar ya.. mungkin belum waktunya.. tunggu aja…..
Siapa ?
Memang kamu siapa…?
Berani-beraninya kau tanam benih di lahan orang…
Setelah tumbuh, pergi begitu saja…
Hingga…
Hingga tumbuh dan besar dan membekas…
Apa dengan menebangnya pohon itu akan hilang begitu saja….?
Menurutmu ….?
Aku Baik-baik Saja
Saat mencoba untuk berkata bijak, untuk menutupi kegelisahan saat kau pergi jauh. Berharap dapat memutar kembali roda waktu yang terlanjur tergelincir mengitari setiap harapan yang telah larut. Mencoba tegar dan terlihat gagah menghadapi semuanya sendiri tanpa mengharapkan kasih dari orang lain. Saat itu juga dirasa memuka bermuka dua, membohongi setiap insan yang bertanya dan ku jawab “Aku baik-baik saja”